Bagaimana Kita Bisa Tahan Makan Makanan Pedas?

 Berapa banyak di antara kalian yang suka dengan makanan pedas? Karena kita tinggal di Indonesia, dengan berbagai macam hidangan termasuk yang pedas-pedas, mungkin akan lebih tepat kalau pertanyaanya adalah seberapa banyak diantara kalian yang tidak suka dengan makanan pedas? Apakah kalian pernah heran, bagaimana satu orang merasa seperti mulutnya terbakar? Hanya dengan sedikit rasa pedas, bahkan bisa sampai menangis. Tetapi di samping kalian, ada satu orang yang mengunyah makanan super pedas, namun dengan muka yang sangat datar. Kira-kira bagaimana ya tubuh kita bereaksi terhadap makanan ini? Coba kita pikir, kenapa mereka yang berasal dari beberapa negara tertentu seperti India, Mexico, atau bahkan negara Indonesia, sangat tahan terhadap makanan pedas? Apakah ada hubunganya dengan lokasi geografisnya? Atau singkat kata kita mempunyai gen yang unggul? Hmmmm... Bukan. Kemampuan memakan hidangan pedas, dipelajari secara bertahap selama kita tumbuh dewasa. Dengan kata lain dibiasakan sejak kecil, sehingga semakin lama semakin tahan. Tetapi, apakah itu berarti mereka yang tidak terlatih tidak akan bisa makan pedas? Tentu saja bisa. kita lihat Bagaimana caranya? Coba kita lihat mekanisme di balik merasakan kepedasan di mulut kita. Rasa pedas yang kita rasakan datang dari chili peppers atau cabai yang mengandung suatu zat kimia bernama capsaicin. Sebenarnya, tidak ada reseptor di lidah kita yang ditugaskan untuk bertahan dari molekul capsaicin. Tapi, kenapa kita masih merasakan pedas? Diketahui bahwa suatu reseptor bernama "Transient Receptor Potential Vaniloid One" atau TRPV1 yang berada di mulut kita, mempunyai fungsi utama yaitu memberi tahu otak kita apabila kita memakan sesuatu yang panas. Namun, molekul capsaicin di cabai mengelabui reseptor-reseptor tersebut dan mengirimkan informasi ke otak kita seakan apa yang kita makan adalah sesuatu yang panas. Maka dari itu, kita mulai berkeringat, mata mulai berair, bahkan hidungpun mulai meler. Walaupun belum sepenuhnya dibuktikan, beberapa orang dipercaya memiliki TRDV1 lebih sedikit dari yang lain, sehingga tidak terlalu bereaksi terhadap cabai dibanding mereka yang mempunyai TRDV1 lebih banyak. Mereka pun bisa lebih tahan dengan makanan pedas walaupun tidak dibiasakan. Satu hal yang perlu diingat adalah bahwa rasa panas yang bertahan di lidah kita adalah akibat dari respon tubuh kita yang lambat dalam menyingkirkan efek dari capsaicin. Minum air pun tidak akan berpengaruh karena yang bisa menyingkirkanya, salah satunya adalah yang berlemak seperti susu. Mungkin lain kali kalian memakan makanan yang terlalu pedas, kalian bisa ingat bahwa itu hanyalah lidah kalian yang sedang mengelabui otak. Bagaimana menurut kalian? Apakah kalian suka membahas fakta-fakta seperti ini? Video kali ini didukung oleh Gado. Channel Youtube yang memberikan perspektif terhadap budaya Indonesia terutama dari mata warga negara luar. Yuk, subscribe ke channel mereka sekarang juga. Ngomong-ngomong, beberapa orang beranggapan bahwa makanan pedas dapat menyebabkan appendisitis. Apakah kalian salah satu yang berpikir seperti itu? Kita bahas di video berikutnya ya!

Komentar